Selamat Datang di website resmi Desa Takmung. Website ini merupakan salah satu media Informasi kegiatan Desa Takmung.

Perbekel Desa Takmung

I Nyoman Mudita, SH.

Pengusaha Telur Asin di Klungkung Kewalahan

  • 01 Agustus 2017
  • Dibaca: 405 Pengunjung
Pengusaha Telur Asin di Klungkung Kewalahan

Pengusaha Telur Asin di Klungkung saat ini kewalahan menerima pesanan dari berbagai wilayah di Bali. Hal ini dialami pengusaha telur asin, Intan sari, Dusun Uma Salakan, Desa Takmung, Klungkung. Seperti apa usaha yang dilakukan pengusaha telur asin milik Wayan Tantra ini.

Wayan Tantra sendiri mengaku menjalani usaha telur asin di Uma Salakan sejak Tahun 1996 silam. Sebelum terjun ke dunia usaha, dirinya adalah pegawai di salah satu BUMN, namun karena khawatir ditugaskan di luar Bali, maka dirinya memutuskan untuk berhenti. “Dan Akhirnya saya terjun ke dunia Itik dan telur,” jelas Wayan Tantra di tempat kerjanya .

dituturkan Wayan Tantra sendiri, untuk mendapatkan telur dirinya memelihara sekitar 2.500 ekor itik di sebuah tempat di Uma Salakan. dari itik inilah setiap harinya rata-rata mendapatkan telur sampai 600 butir sehari atau lebih. Dari 600 butir tersebut, telur disortir lagi agar mendapatkan telur yang baik dipakai telur asin. “Nah setelah disortir, barulah dicuci bersih, yang retak atau bentuknya terlalu lonjong kita jual ke pasar tradisional,” bebernya. disaat pencucian tersebut, pekerja mesti hati-hati agar tidak pecah dan selanjutnya dibalur dengan pasta. sedangkan masa bertelur itik ini dari umur 4 bulan sampai umur ke 12 bulan. Bila telurnya sudah berkurang, maka itik ini dijual ke pasar.

Dijelaskannya pasta untuk untuk telur asin sangat sederhana yaitu hanya mencampurkan abu dari sekam dengan garam. Pasta ini kemudian dibalurkan pada telur dan selanjutnya direndam sekitar 15 hari. “Setelah perendaman selama 15 hari itu, selanjutnya pasta dibuang dan dilakukan perebusan selama 4 jam,” jelasnya lagi. selama perebusan tersebut, besar api mesti konstan agar telur tidak pecah saat perebusan. setelah empat jam perebusan, telur didinginkan dan lagi dicuci sampai bersih. “Sederhana kan prosesnya, sesudah bersih selanjutnya urusan cap dan kemasan,” terangnya.

Proses pengemasan menurutnya tidak begitu rumit, dimana setelah telur benar-benar bersih selanjutnya dicap dan masuk dalam kemasan. dalam kemasan tersebut juga dicantumkan masa expired 10 hari dari saat mengemas. Disebutkannya, telur asin produksinya sudah terjual di swalayan seperti Hardys, Tiara dan Clandys. Bahkan dirinya saat ini kewalahan menerima pesanan baik dari toko-toko lokal dan pasar tradisional. Harga telur asin yang dijual perbutirnya Rp 3.500, sedangkan telur itik mentah saat ini harganya sekitar Rp 1.700 perbutir.

Dikatakannya, resep penjualan produksinya diminati konsumen adalah selalu menjaga kualitas, menjaga kuantitas, kontinuitas dan saling menguntungkan. “Biasanya pengusaha telur asin tidak bisa menjaga kontinuitas berkelanjutan, kami bisa lakukan karena memelihara itik sendiri,” bebernya. usahanya ini juga memperkerjakan 5 pegawai yang bekerja sebagai pengelola ternak, sortir telur sampai ke proses pengemasan dan pengiriman.

Yang membuat dirinya bangga, oleh Kabupaten luar Bali sering mendapat kunjungan selain dari kabupaten lain di Bali. “Biasanya saya ditugaskan memberikan metode pembuatan telur asin,” bebernya. Diungkapkannya, yang sering mengunjungi usahanya adalah pegawai atau PNS yang menjelang pensiun. Yang mana sebelum memasuki masa pensiun, PNS tersebut dibekali ketrampilan untuk mengisi hari tua setelah pensiun.

  • 01 Agustus 2017
  • Dibaca: 405 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita